Sedikit Ilustrasi Pengembangan Diri.
Seorang bangsawan yang ingin mengalami pencerahan hidup menemui guru di sebuah kuil. Saat berjumpa dengan sang guru, bangsawan itu menjelaskan maksud kedatangannya. “Baiklah, kalau kau ingin mengalami pencerahan hidup, ada pertanyaan yang harus kau jawab”. “Bagaimana kau menaruh payung serta sandal kayumu di tangga saat engkau masuk ruangan ini?” Bangsawan ini mulai bingung dengan pertanyaan sang guru. Pertanyaan sang guru yang dianggapnya sepele dan dianggap tak berhubungan dengan pencerahan hidup itu tak dapat dijawab langsung
oleh bangsawan. Ia harus kembali keluar untuk mencari jawabannya. Setelah melihat posisi payung dan sandal yang diletakkannya, bergegas ia kembali menghadap sang guru. Namun, belum sempat menjawab, sang guru sudah memberi pertanyaan kedua. “Sewaktu kau keluar tadi, apakah kau tahu berapa jumlah anak tangga yang berada di depan pintu masuk itu?” Dengan agak kesal bangsawan terpaksa kembali lagi keluar untuk menghitung anak tangga. Sama seperti sebelumnya, belum sempat 412CB – CB: Self Development sang bangsawan menjawab, sang guru bertanya untuk ketiga kalinya. “Waktu kau menghitung anak tangga, apakah kau tahu berapa batu-batu yang sudah rusak?” Bangsawan itu malu sekali karena tiga pertanyaan sang guru tak dapat ia jawab langsung.
Saat ia hendak kembali keluar untuk menghitung batu-batu yang rusak, Sang guru mencegahnya dan berkata: ”Bagaimana engkau hendak mengalami pencerahan hidup, jika apa yang terjadi dalam hidupmu saja tak kau ketahui?” (Smart Emotion, 2006: 182)
Pertanyaan:
1. Mengapa sang guru menganggap penting letak payung, sandal, jumlah anak
tangga, dan batu-batu yang rusak?
2. Apa hubungannya hal-hal yang ditanya sang guru dengan pencerahan hidup?
Pengembangan diri selalu diawali dengan kesadaran akan apa yang terjadi pada diri sendiri, yaitu ‘Sang Aku’. Namun, hari-hari yang bergulir dalam roda aktivitas, kerap kali berlalu begitu saja tanpa makna. Semakin laju roda aktivitas semakin menyeret bahkan memerangkap kita dalam aktivitas semata, hampa, tanpa arti, kehilangan arah maupun tujuan. Persis seperti ilustrasi sang bangsawan di awal tadi. Padahal, boleh jadi hal kecil yang tak disadari adalah sesuatu yang penting bahkan tak mustahil dapat menghantar kita pada suatu perubahan, pencerahan hidup, bahkan dapat menjadi bagian bagi pengembangan diri. Tanpa kesadaran diri, setiap pergerakan hanya menjadi pergerakan semata, salam hanya basa basi, perjumpaan berlalu tanpa makna, semangat hanya pemuas ambisi belaka, perjalanan tak menghantar pada jalan keluar, dan akhirnya hidup hanya demi hidup itu sendiri. Hingga suatu saat, saat dimana kesadaran yang hilang pada masanya itu muncul, tak jarang sudah terlambat. Karena sang waktu tak mengenal mundur, ia berlalu dan tak pernah menanti.
