Bapak CEO,
saya ingin pergi, aku tak tau apakah ini pilihan terbaik saya saat ini atau tidak..
Bukan karena aku penghianat, saya mungkin sudah menjadi salah satu seorang kepercayaan bapak disini. saya mungkin salah seorang yang bekerja lebih dari 12 jam perhari, hanya saja jarang orang yang melihat saya dan jarang orang yang paham dengan apa yang saya lakukan.
Tepat 2 tahun silam, sebelum saya disini, saya masih seorang yang tidak tau apa-apa tentang dunia, namun disaat semua telah lelah, saya menemukan tempat untuk belajar, dimana ? disini..
Diperusahaan yang bapak/ibu bangun saya mendapatkan tempat belajar baru, seperti layaknya sekolah. saat itu yang menjadi tanggungjawab saya adalah, bagaimana saya bisa membalas budi dengan cara melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini.
Saya lihat, diperusahaan ini berantakan untuk sistem informasinya dan infrastrukture teknologinya. saya berfikir apa yang bisa saya lakukan untuk merubahnya menjadi lebih baik, salah satunya adalah merapikannya. tak mudah bekerja sendiri untuk mengumpulkan informasi dan merapikannya apalagi pada 3 perusahaan.
saya harus menghabiskan 18 jam untuk selalu menepati janji saya, dalam waktu yang lama, satu demi satu perusahaan memiliki sistem yang menurut saya lebih baik daripada sebelumnya.
Namun, saya berfikir… apa yang saya lakukan selama ini ternyata masih jauh, dan akibat saya terlalu fokus dengan pekerjaan saya, saya kehilangan seseorang yang paling saya sayangi..
Ini, adalah hal terburuk yang pernah saya alami, hanya karena saya bekerja lebih baik hingga saya melupakan semua kehidupan yang seharusnya saya juga perlu rasakan. saya sangat menyesal dengan hal hal itu. hidup saya ternyata bukan hanya sekedar itu, hidup saya juga memerlukan seseorang yang selalu ada disamping saya, menemani, menjadi apa yang saya banggakan, menjadi yang saya perjuangkan, menjadi yang saya selalu doakan, menjadi teman, menjadi partner, menjadi seseorang apapun itu.
Kesalahan terbesar telah saya lakukan, hingga apa yang seharusnya saya jadikan perjuangan itu sirna dan hilang, lalu apa, saya hanya seonggok manusia yang masih punya sedikit harapan.
“Jika tidak karena Doa, saya sudah terbunuh Rindu “
ini ungkapan hati saya, kenapa saya tulis disini, karena jika nanti saya mati, masih ada yang mengingatnya.
Aku bukan pengeluh, aku seorang pejuang, saya sangat suka tantangan. namun jika akhirnya tidak jelas. bagaimana saya bisa meyakininya.
Kujadikan doa sebagai penghubung antara aku dan dia, kuyakinkan hati bahwa, Tuhan tak pernah Ingkar janji.
Aku memohon pada Tuhan, untuk sisa hidupku ini, bahwa kutitipkan dia kepadaMU. Aku lanjutkan perjalanan lagi, hingga kutemui aku bisa memberikan manfaat bagi banyak orang, aku ingin kembali untuk melihat titipanku tadi.
Bukankah Engkau telah turunkan ayat yang membuat hatiku tenang, yaitu “Kun Fayakun” bahwa apapun yang terjadi didunia ini adalah KehendakMU, dan setiap doa akan selalu Kau kabulkan selama itu baik.
Jika kita tau bahwa didalam AlQuran sebenarnya berisi kumpulan puisi, tentang hatimu dan tentang hidupmu, pastilah kita akan selalu merindukan untuk membaca dan memahaminya.
