Ketika Kegagalan Terus Menerus Menimpa Hidup, Kita Harusnya Gimana?
Menyerah adalah pilihan mudah. Menyerah lantas menyasar pilihan-pilihan yang lebih mudah. Lebih realistis. Menurunkan standar. Biasalah, ketika kita nggak tahu harus bagaimana setelah banyak kemalangan menimpa, kebanyakan orang akan berakhir seperti itu.
Berdiplomasi dan bernegosiasi dengan diri sendiri tidaklah semudah itu. Kita tahu rasanya gagal. Kita tahu rasanya saat semua yang kita kerjakan menjadi tidak berguna. Kita cenderung apatis, marah, malas, dan berteriak, “Hidup gua kok gak adil? Tuhan tuh gimana, nentuin nasib gua kok sejelek ini?”
Hal ini yang sering dipertanyakan oleh kita semua, terutama untuk anak muda remaja. Jelas itu masa pergolakan batin.
BELAJAR, BUNG!
Sepanjang hidup, kita harus mengakui kita kalah di sebagian pertempuran. Hanya sedikit sekali yang bisa langsung memenangkan pertempuran demi pertempuran hidup. Ini pada kasus rata-rata orang kebanyakan, semua sengaja digagalkan oleh Tuhan untuk satu tujuan. Seringkali kamu lupa dengan maksud itu, seringkali yang kamu sorot justru pertanyaan “Kenapa gua sih, yang gagal?”
Kamu mungkin iri. Kenapa Joey Alexander, Rio Haryanto, Fatin Shidqia, Isyana Sarasvati bisa sukses? Kenapa gua nggak? Padahal sama-sama makan nasi. Para pesohor yang begitu muda, tapi begitu sukses bersinar. Kamu usia segitu, belum apa-apa (termasuk saya, haha).
Hei, ingat-ingat hal ini. Tidak bijak membanding-bandingkan! Ini kuncinya jika kamu merasa iri dengan mereka. JADILAH PENCURI. Curi sebanyaknya yang bisa kau curi dari pengalaman kesuksesan maupun kegagalan orang lain.
Saya gagal di beberapa mata kuliah saat ujian, teman saya lulus dengan nilai baik. Sekarang dia bekerja jadi engineer di Microsoft sementara saya malah jadi pemiliknya.
Saya sering ingat. Orang-orang yang dipandang sudah sukses itu, adalah orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Pembaca Selipan pasti (mungkin) sering kali mengulangi kesalahan yang sama berulang kali. Kesal banget. Seolah gak bisa berubah. Perubahan itu butuh tekad, perjuangan, dan kecerdikan. Ya, kecerdikan. Aspek yang menurut saya sering dikesampingkan.
Pelajari apa yang membuat mereka yang telah sukses. Terlihat begitu sukses semuda itu semudah itu?
Emang kamu tahu sudah berapa RIBU JAM Rio Haryanto latihan balap?
Emang kamu tahu sudah berapa RIBU JAM Isyana latihan nyanyi dan memainkan instrumen?
Emang kamu tahu sudah berapa RIBU JAM Joex Alexander latihan piano?
Emang kamu tahu sudah berapa RIBU JAM Fatin latihan nyanyi?
Mungkin karena mereka sangat menikmatinya. Mereka tidak menghitung waktu (ingat hukum 10.000 jam latihan, walau mungkin khusus Kamu bisa lebih cepat dari itu). Satu lagi kalau mau hepi dalam rentang perjalanan menuju kesuksesan. ENJOY.
If just a talent, that’s not enough dude! Mereka yang menyelami area yang mereka minati, dengan bakat itu saja. BUTUH LATIHAN dan PERJUANGAN. Jadi, sebenarnya, setelah tahu betapa epik proses yang telah mereka lalui, semua jadi soal kewajaran saja. Wajar.
Sulit menikmati aktivitas apa yang kamu tidak kamu cintai. Saya mendapati menyukai tidaklah cukup. HARUS MENCINTAI. Suka menulis tidak cukup, harus mencintai menulis. Suka berbisnis tidak cukup, harus mencintai berbisnis.
Sebab hanya sekedar menyukai dan mencintai. Terdapat jurang pemaknaan yang begitu jauh. Aku lebih suka pembaca Selipan mepelajari hal ini sendiri. Ketimbang mencekoki.
“TIDAK SEMUA HAL BISA DIPELAJARI HANYA DENGAN MEMBACA.
KAMU HARUS MENGALAMI SENDIRI!!”
Dan satu stok vitamin emosional lain:

“YANG PENTING BUKAN BERAPA KALI AKU GAGAL. TAPI YANG PENTING, BERAPA KALI AKU BANGKIT DARI KEGAGALAN.” —Abraham Lincoln
Ada tiga tipe orang dalam menyikapi kegagalan yang bertubi-tubi itu. Ada yang muak karena terus menerus melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Kamu mengutuki diri sendiri. “Aku bodoh ..” dan sebagainya. Serta sarkasme yang lebih sadis pada diri sendiri. Itu pertanda kamu keras pada diri sendiri. Itu yang saya alami.
Kembali ke tipe orang yang saya singgung tadi. Ada yang makin bersemangat terus berlari karena tahu ia sudah setengah jalan. Sedang sebaliknya, ada yang menyerah karena tahu ia harus menempuh setengah lagi perjalanan. Sedang ia sudah sangat kelelalahan.
Yakin kamu sudah setengah jalan mencapai impian? Sebab, jika itu benar-benar sesuatu impian berharga nan begitu bermakna yang bagimu harus tercapai. TIDAK BISA TIDAK. Maka masalah energi, bisa disiasati dengan recharge.
Kurangnya daya dorong untuk bergerak mungkin karena kurangnya keyakinan. Sedikitnya support system. Karena orang dalam menyerap enegi ada dua jenis juga. Jenis eksternal dan internal. Eksternal, lebih efektif menerima semangat dari lingkungannya, orang-orang di sekitarnya (biasanya seorang ekstrovert). Atau yang bisa memotivasi dari dalam diri sendiri (biasanya seorang introvert).
Belajar dari kegagalan mantan orang-orang gagal. Mantan orang gagal itu, Ya orang sukses.
Berikutnya;
Lakukan apa yang belum pernah dilakukan. Pernah terpikirkan, tapi belum pernah dilakukan, karena terlalu sulit. Dan punya hambatan mental yang besar. Maka 80% itu solusi sebenarnya. Sudah ada dikepalanya. Kadang, solusinya sangat sederhana.
PERJALANAN
Ya. Nikmati proses. ENJOY. Kenikmatan, keseruan sesungguhnya terletak pada perjalanannya, bukan tujuannya. Hal ini sering baru disadari setelah tujuan tercapai. Lalu kita merasa bosan dengan kenyamanan statis dari tujun yang telah tergapai itu.
Lantas menginginkan tantangan yang lebih seru lagi. Makanya, kesuksesan itu tak pernah berujung bagi benar-benar mengerti maknanya. Sealu ada titik kesuksesan lain yang kita incar. Bukan sekedar hal-hal semacam harta benda, kekuasaan, popularitas, status sosial.
Berfikir kebalikan dari pada kebanyakan mikir. Coba serap ucap Om Bob berikut ini:
Segala teori valid tercipta karena ada pengalaman yang melandasinya. Darimana pengalaman itu? Ya dari mengalami sendiri. Atas pertanyaan saya di judul artikel, saya anggap Pembaca Selipan yang cerdas sudah tahu jawabannya. Wassalam, hope it help.
Source Original :
www.selipan.com/life/opini/tatkala-gagal-bertubi-tubi-bertahun-tahun-kita-harusnya-gimana/#



