Aku Bukan Editor yang Baik

Mengutip dari suatu sajak dimedia yang membahas mengenai puisi, sepertinya asyik juga kata-katanya. begini bunyinya secara lengkap :

Aku bukan editor yang baik,
Tuhanku. Tiap malam kuralat mimpiku dan tetap saja keliru
.

Ada lagi yang seperti ini :

kutemani sunyi
liburan ke dadaku
dosa-dosa meringkuk di sana
dikepung kemustahilan
lebaran dan harapan
tak tahu cara memaafkan
sunyi geleng-geleng kepala
menyalami teman baruku:
si putus asa.

Tidak ada keinginan yang sempurna. Mau itu, dapat ini. Kadang kegagalan dalam mendapatkannya adalah putus asa yang belum diberi semangat. Namun, dari bagian akhir puisi Daeng Khrisna ini, semua yang bergerak cepat (baca: waktu) akan selalu ada teman yang menemani dan selalu ada tempat sendiri: sunyi yang berlibur di dada, lebaran dan harapan tak tahu cara memaafkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *